Kaleke dan Datu Pamusu: Menelusuri Jejak Terakhir Kerajaan Dolo serta Silsilah Bangsawan Dolo–Tatanga
Kaleke, Sigi — Nama Kaleke memiliki tempat penting dalam perjalanan sejarah Kerajaan Dolo. Desa yang kini berada di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, ini menyimpan jejak pemerintahan, perjuangan, serta silsilah keluarga bangsawan yang masih dikenang hingga sekarang.
Salah satu tokoh utama dalam sejarah tersebut adalah Datu Pamusu, yang dikenal sebagai Magau Dolo. Sejumlah sumber sejarah mencatat Datu Pamusu sebagai raja Dolo pada periode akhir pemerintahan tradisional Dolo. Kajian sejarah juga mengaitkan perjalanan hidupnya dengan perjuangan menghadapi pemerintahan kolonial Belanda.
Kaleke dan jejak Datu Pamusu
Kaleke bukan sekadar nama tempat dalam peta sejarah Dolo. Sebuah tulisan yang terbit pada 2026 melaporkan keberadaan lontarak berbahasa Kaili yang memuat silsilah kerajaan di Lembah Palu, termasuk Dolo, Tawaeli dan Kaleke, dan naskah tersebut disebut masih disimpan oleh kerabat Datu Pamusu di Kaleke.
Jejak Datu Pamusu di Kaleke juga muncul dalam berbagai kisah sejarah lokal. Hubungannya dengan tokoh-tokoh dari wilayah lain memperlihatkan bahwa Kaleke pada masa itu menjadi salah satu ruang penting bagi hubungan antarkeluarga bangsawan dan tokoh masyarakat di kawasan Lembah Palu.
Salah satu kisah yang terdokumentasi adalah persahabatan Datu Pamusu dengan Raja Tombolotutu. Ketika Tombolotutu berada di Kaleke, keduanya disebut memiliki hubungan persahabatan yang erat. Setelah Datu Pamusu kembali dari pengasingan di Ternate, ia bahkan disebut menjemput kedatangan Tombolotutu bersama keluarga di Donggala.
Silsilah Dolo–Tatanga menurut tutura keluarga
Selain garis keturunan yang terdapat dalam sumber tertulis, masyarakat dan keluarga bangsawan juga memiliki tutura, yaitu penuturan turun-temurun mengenai leluhur dan hubungan kekerabatan.
Berdasarkan keterangan silsilah keluarga yang disampaikan kepada penulis, terdapat garis hubungan:
Datu Pamusu
Magau/Raja Dolo
×
Bida Buya
dari garis bangsawan Tatanga
↓
Palisangka
×
Intjeadja binti Lapatado
dari Bone
Dari pasangan Palisangka dan Intjeadja disebutkan terdapat sembilan orang anak:
1. Burhan
2. Andi Soni
3. Daiftan
4. Andi Rade
5. Daeng Suende
6. Nur Site
7. Andi Sangi
8. Mohamad Rizal
9. Syah Rizal
Dengan demikian, berdasarkan keterangan keluarga tersebut, bagan silsilahnya dapat ditulis:
Warisan keluarga dan sejarah yang perlu dicatat
Silsilah seperti ini memiliki arti penting bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi sejarah lokal. Nama-nama leluhur, hubungan perkawinan, asal-usul keluarga dan perpindahan antarkerajaan merupakan bagian dari ingatan sosial masyarakat.
Namun, perlu dibedakan antara sejarah yang telah ditemukan dalam sumber tertulis dan silsilah keluarga yang berasal dari tutura. Sumber yang tersedia secara daring menguatkan kedudukan Datu Pamusu sebagai Magau Dolo dan menunjukkan pentingnya Kaleke dalam sejarah Dolo. Sementara hubungan Datu Pamusu–Bida Buya–Palisangka–Intjeadja serta sembilan anak Palisangka dalam artikel ini disajikan berdasarkan keterangan silsilah keluarga yang diberikan, dan masih memerlukan pencocokan dengan lontarak, arsip keluarga, atau dokumen sejarah lainnya.
Hal tersebut justru menunjukkan pentingnya pelestarian sumber-sumber keluarga. Lontarak, dokumen lama, makam leluhur, foto keluarga, surat kerajaan, serta tutura para tetua dapat menjadi bahan penting untuk menyusun sejarah Dolo secara lebih lengkap.
Kaleke: tempat sejarah bertemu dengan ingatan keluarga
Sejarah Kerajaan Dolo tidak hanya tersimpan dalam buku. Ia juga hidup dalam nama tempat, makam, rumah-rumah tua, benda pusaka, cerita para tetua dan silsilah keluarga.
Kaleke menjadi salah satu ruang penting tempat berbagai jejak tersebut bertemu. Datu Pamusu menjadi salah satu tokoh sentral dalam sejarahnya, sementara silsilah keluarga Dolo–Tatanga menjadi bagian dari warisan yang masih perlu terus ditelusuri dan didokumentasikan.
Mencatat silsilah bukan sekadar mencatat nama. Di dalamnya terdapat perjalanan manusia, hubungan antarkeluarga, perpindahan kekuasaan, perkawinan antarkelompok bangsawan, serta identitas masyarakat yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Kaleke bukan hanya tempat yang menyimpan masa lalu. Kaleke adalah bagian dari ingatan sejarah yang masih hidup.

Komentar
Posting Komentar