Postingan

Kaleke dan Datu Pamusu: Menelusuri Jejak Terakhir Kerajaan Dolo serta Silsilah Bangsawan Dolo–Tatanga

Gambar
  Kaleke, Sigi — Nama Kaleke memiliki tempat penting dalam perjalanan sejarah Kerajaan Dolo. Desa yang kini berada di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, ini menyimpan jejak pemerintahan, perjuangan, serta silsilah keluarga bangsawan yang masih dikenang hingga sekarang. Salah satu tokoh utama dalam sejarah tersebut adalah Datu Pamusu, yang dikenal sebagai Magau Dolo. Sejumlah sumber sejarah mencatat Datu Pamusu sebagai raja Dolo pada periode akhir pemerintahan tradisional Dolo. Kajian sejarah juga mengaitkan perjalanan hidupnya dengan perjuangan menghadapi pemerintahan kolonial Belanda.  Kaleke dan jejak Datu Pamusu Kaleke bukan sekadar nama tempat dalam peta sejarah Dolo. Sebuah tulisan yang terbit pada 2026 melaporkan keberadaan lontarak berbahasa Kaili yang memuat silsilah kerajaan di Lembah Palu, termasuk Dolo, Tawaeli dan Kaleke, dan naskah tersebut disebut masih disimpan oleh kerabat Datu Pamusu di Kaleke.  Jejak Datu Pamusu di Kaleke juga muncul dalam berbagai kisah se...

Forum Kerukunan Pemangku Adat Kabupaten Sigi

Gambar
Forum Kerukunan Pemangku Adat Kabupaten Sigi (FKPA Kabupaten Sigi) merupakan wadah silaturahmi, komunikasi, dan kebersamaan para pemangku adat dalam menjaga, mengembangkan, serta melestarikan nilai-nilai adat dan budaya di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Kabupaten Sigi merupakan wilayah yang memiliki keragaman suku, komunitas adat, bahasa, tradisi, dan kearifan lokal . Suku Kaili dan Suku Kulawi merupakan kelompok masyarakat adat yang memiliki akar sejarah dan kebudayaan kuat di wilayah Sigi. Di samping itu, terdapat pula komunitas masyarakat dari kawasan pegunungan dan wilayah perbatasan, termasuk komunitas To Bada, Rampi, dan Seko , serta masyarakat dari berbagai suku Nusantara yang telah hidup dan berkembang bersama masyarakat setempat. Keberagaman tersebut juga terlihat pada komunitas Jawa, Sunda, Bali, Bugis, Makassar, Toraja , dan kelompok masyarakat lainnya yang telah menjadi bagian dari dinamika sosial Kabupaten Sigi. Kehadiran berbagai komunitas ini membentuk kehidupan ma...

Sejarah Terbentuknya Sanggar Seni Mutianggaluku

Gambar
Sanggar Seni Mutianggaluku memiliki perjalanan panjang yang penuh semangat, dedikasi, dan kecintaan terhadap seni budaya daerah, khususnya seni Kaili. Awal mula terbentuknya sanggar ini dimulai pada 1 April 2010, ketika beberapa tokoh penggerak seni dan budaya seperti Kenedi, S.S., Sumarno Iskandar H.D., Syahrizal Datupamusu, bersama sejumlah tokoh lainnya mengadakan rapat persiapan. Rapat tersebut bertujuan untuk mempersiapkan pementasan teater dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional yang akan dilaksanakan pada 2 Mei 2010. Dari hasil rapat tersebut, lahirlah sebuah wadah seni bernama Sanggar Seni Kaili Ntovea. Nama ini menjadi identitas awal perjuangan seni generasi muda yang ingin melestarikan budaya lokal melalui teater, tari, dan berbagai kegiatan seni lainnya. Angkatan pertama yang menjadi pelopor Sanggar Seni Kaili Ntovea terdiri dari: * Kak Anhar (Mantikole) * Kak Bhair (Pesaku) * Kak Adhi (Balamoa) * Kak Ahdin (Rarampadende) * Kak Nhiz (Rarampadende) * Kak Ulam (Rara...

Ada Mpoboti to Kaili

Gambar
  Prosesi adat Poboti To Kaili (pernikahan adat Kaili) merupakan rangkaian sakral yang penuh makna, mencerminkan penghormatan terhadap keluarga, adat, dan nilai kebersamaan. Berikut urutannya: 1. Neduta (Melamar)    Pihak keluarga laki-laki datang secara resmi untuk menyampaikan niat meminang calon mempelai perempuan. 2. Nangore Balanja (Hantaran Belanja)    Penyerahan hantaran berupa kebutuhan adat, perlengkapan, atau simbol kesiapan pihak laki-laki. 3. Nopasoa (Mandi Kembang/Uap Tradisional)    Calon pengantin perempuan menjalani ritual penyucian diri menggunakan batu panas, bunga melati, daun pandan, dan tumbuhan harum lainnya yang disiram air sehingga menghasilkan uap. 4. Nokolntigi (Pemberian Daun Inai/Pacar)    Pemberian daun pacar sebagai simbol kesucian, restu, dan kebahagiaan. 5. Netambuli (Memohon Izin dengan Berbalas Pantun Kaili)    Prosesi adat berupa komunikasi penuh sopan santun melalui pantun sebagai penghormatan ant...

Kepemimpinan di Sulawesi Selatan

Gambar
Di tanah Sulawesi Selatan, sebelum hadirnya negara modern, kehidupan masyarakat diikat oleh adat, siri’ (harga diri), dan pangngaderreng (tatanan sosial). Dari tanah yang subur di pesisir, lembah, hingga pegunungan, lahir kerajaan-kerajaan besar yang kelak memainkan peranan penting dalam sejarah Nusantara. Tiga di antaranya adalah Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Gowa. 1. Mangkau ri Bone Kerajaan Bone didirikan sekitar abad ke-14 dan dikenal sebagai salah satu kerajaan Bugis yang paling berpengaruh. Raja Bone digelari Mangkau ri Bone, yang berarti “yang dimuliakan di Bone.” Gelar ini bukan sekadar sebutan, tetapi pengakuan dari rakyat bahwa rajanya adalah pemimpin yang menjaga siri’, keadilan, dan martabat. Bone pernah mencapai puncak kejayaan pada masa Arung Palakka (abad ke-17), seorang tokoh yang memimpin rakyatnya melawan hegemoni Kerajaan Gowa. Dengan gelar Mangkau ri Bone, raja tidak hanya dihormati sebagai pemimpin politik, tetapi juga sebagai pelindung adat dan lamban...

Arti nama Datupamusu

  Nama *Datupamusu* menyimpan makna yang dalam dan penuh kehormatan. Kata *“Datu”* dalam bahasa Bugis adalah sebuah gelar bangsawan tertinggi, yang merujuk pada seorang raja atau penguasa. Gelar ini tidak hanya menandakan kedudukan, tetapi juga simbol kewibawaan, kebijaksanaan, dan kehormatan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Sementara itu, kata *“Pamusu”* dalam bahasa Bugis berarti orang yang memiliki sifat memberi dan murah hati. Pamusu adalah jiwa yang tidak pelit membagi, yang selalu memandang bahwa keberkahan hidup terletak pada keikhlasan untuk berbagi kepada sesama. Jika kedua kata ini disatukan, maka *Datupamusu* melambangkan seorang pemimpin atau tokoh yang bukan hanya berkuasa, tetapi juga memiliki hati lapang, suka memberi, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Nama ini menjadi warisan yang sarat makna, penanda kebesaran leluhur, sekaligus pengingat bahwa kekuasaan sejati lahir dari kedermawanan dan ketulusan hati.

KEKERABATAN MANDAR DAN KERAJAAN DOLO

Gambar
  Menurut tradisi lisan di wilayah Sigi bahwa kerajaan lokal yang paling awal dari Sulawesi Tengah adalah Kerajaan Bangga. Tradisi lisan setempat meriwayatkan bahwa Raja (Magau) atau pemimpin pertama Kerajaan Bangga adalah seorang putri yang bernama Wumbulangi. Putri Wumbulangi dalam cerita ini dinyatakan sebagai seorang yang berparas cantik. Magau Wumbulangi kemudian dikawini oleh Magau Pakava yang bernama Mbawa Lemba dengan pinangan emas empat ruas bambu. Pernikahan itu dilangsungkan selama empat puluh hari empat puluh malam secara terus menerus. Hasil perkawinan ini melahirkan dua orang anak yang berjenis kelamin laki-Iaki dan perempuan. Anak laki-laki bernama lralawa Lemba dan perempuan bernama Pue Galubuk. Anak perempuan Pue Galubuk menikah dengan Madika dari Lindu yang melahirkan anak bernama Timpalaja yang nantinya menurunkan raja-raja di wilayah Lindu. Sementara itu, lralawa Lemba atau Mpu Selangi kawin dengan Gili Reme(1) seorang Madika di Palu yang melahirkan laki-laki be...

I Mariama Karaeng Pattukangang: Jembatan Tiga Kerajaan Besar di Sulawesi Selatan

Gambar
Di tengah gejolak sejarah abad ke-17 hingga ke-18 di Sulawesi Selatan, berdiri sosok perempuan agung yang menjadi jembatan penghubung tiga kerajaan besar: Gowa, Bone, dan Soppeng. Dialah I Mariama Karaeng Pattukangang, putri bangsawan berdarah mulia dari dua garis keturunan besar. Ia lahir dari rahim I Mapadulung Daeng Matimung Karaeng Sanrobene, seorang bangsawan Gowa, dan ayahandanya adalah Sultan Abdul Jalil, Raja Gowa ke-19, yang merupakan putra dari I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, sang Ayam Jantan dari Timur, Raja Gowa ke-16 yang termasyhur karena perjuangannya melawan penjajahan VOC. Sebagai putri bangsawan Gowa, I Mariama tumbuh dalam lingkungan istana yang kental dengan adat, strategi politik, dan keagungan budaya. Namun takdirnya tidak berhenti di dalam tembok Kerajaan Gowa. Ia dinikahkan dengan La Patau Matanna Tikka, Raja Bone ke-16, dalam sebuah aliansi politik dan budaya yang membawa pengaruh besar bagi ketiga kerajaan. Pernikahan Agung: Perpaduan Darah Gow...

Peninjauan Lokasi Pembangunan Sekretariat Dewan Adat Kabupaten Sigi di Huntap Pombewe

Gambar
Kabupaten Sigi – Dewan Adat Kabupaten Sigi bersama Pemerintah Kabupaten Sigi melakukan peninjauan lokasi rencana pembangunan Sekretariat Dewan Adat Kabupaten Sigi pada Selasa, bertempat di kawasan Hunian Tetap (Huntap) Pombewe. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Adat Kabupaten Sigi, Drs. H. Aries Singi, M.Si, dan unsur Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Maman, Kepala Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Sigi. Lokasi yang ditinjau memiliki luas 35 x 120 meter, terletak strategis tepat di belakang Kampus UIN Datokarama Sigi. Peninjauan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan lahan serta mendiskusikan aspek teknis dan strategis dari pembangunan sekretariat yang nantinya akan menjadi pusat kegiatan adat di Kabupaten Sigi. Dalam kesempatan tersebut, Maman menyampaikan bahwa pemerintah daerah juga mempertimbangkan alternatif lokasi lain, yakni di samping Gedung Kesenian Sigi yang berada di kawasan Taman Tai Ganja, Kalukubula. Alternatif ini dinilai memiliki potensi...

Gau' Maraja dan Tudang Sipulung Wija Raja La Patau Matanna Tika (Perwira-LPMT)

Gambar
Maros, 5 Juli 2025* - Suasana penuh kearifan dan kekeluargaan mewarnai kegiatan Gau' Maraja dan Tudang Sipulung yang digelar oleh Perkumpulan Wija Raja La Patau Matanna Tikka (Perwira-LPMT) di Kabupaten Maros, pada Sabtu, 5 Juli 2025. Acara ini menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antar wija (keturunan) raja, khususnya keturunan dari La Patau Matanna Tikka, sosok agung dalam sejarah kerajaan Bugis. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Paduka Yang Mulia (PYM) Datu Luwu ke-39, Andi Bau Iwan Alamsyah Djema Barue, S.H., M.H., yang memberikan warna istimewa dalam pertemuan tersebut. Kehadiran beliau menjadi simbol kuatnya semangat pelestarian nilai-nilai adat, budaya, dan sejarah dalam kehidupan masyarakat Bugis-Luwu masa kini. PYM Datu Luwu menegaskan pentingnya menjaga warisan leluhur, tidak hanya sebagai bagian dari identitas, tetapi juga sebagai fondasi moral dan sosial di tengah tantangan zaman modern. “La Patau Matanna Tikka bukan sekadar nama besar dalam seja...

LOSO: Menghidupkan Kembali Tradisi Libu Para Magau Demi Menjaga Keadatan dan Kearifan Leluhur

Sigi, 29 Juni 2025 – Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, para tokoh adat dan keturunan Magau dari berbagai wilayah kembali menggugah kesadaran bersama untuk melestarikan nilai-nilai luhur warisan leluhur. Salah satunya adalah dengan menghidupkan kembali LOSO, sebuah tradisi Libu atau musyawarah yang dahulu menjadi bagian penting dalam tata kelola masyarakat adat di bawah kepemimpinan para Magau. LOSO bukanlah sekadar pertemuan biasa. Ini adalah ruang sakral bagi para Magau dan keturunannya untuk bermusyawarah, menetapkan kebijakan, serta menyusun program-program penting yang berkaitan dengan wilayah kekuasaan dan tanggung jawab masing-masing. Dalam tradisi ini, setiap Magau memiliki kedudukan yang diakui secara adat, dengan kewenangan yang dihormati satu sama lain. Kini, di tengah sistem pemerintahan modern yang tidak lagi menganut struktur Magau, LOSO hadir kembali sebagai bentuk pelestarian budaya dan upaya merevitalisasi tatanan kearifan lokal. Melalui LOSO, para keturuna...

ASAL-USUL DESA LUKU: WARISAN PUE MPORANDU DAN BUNGA SIMBAR DI BOYA LUKU

Gambar
Desa Luku, yang kini menjadi bagian dari wilayah administratif Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, menyimpan sejarah panjang yang tidak hanya tercatat dalam jejak pembangunan, tetapi juga dalam ingatan kolektif masyarakat adat. Salah satu bagian penting dari sejarah asal-usul Desa Luku adalah kisah tentang seorang leluhur sakti bernama Pue Mporandu, dan warisan alam yang disebut bunga simbar atau bunga berdoa, dalam bahasa Kaili Luku. 1. Pue Mporandu dan Wilayah Bulunti Menurut penuturan para tetua adat, Pue Mporandu berasal dari Bulunti, suatu kawasan sakral yang terbentang dari Gunung Balamoa hingga Wisolo. Bulunti diyakini sebagai wilayah leluhur yang menjadi pusat kekuatan spiritual dan pengetahuan tradisional masyarakat Kaili. Pue Mporandu dikenal sebagai figur penting dalam sejarah pembukaan wilayah yang kini menjadi Desa Luku. Ia adalah tokoh bijak dan berilmu, memiliki hubungan yang erat dengan alam, serta dipercaya sebagai penjaga keseimbangan antara manusia dan kekuatan gai...

SILATURAHMI DEWAN ADAT KABUPATEN SIGI KE POLRES SIGI

Gambar
SIGI, 18 Juni 2025 — Dalam semangat mempererat sinergi antara Dewan adat dan institusi penegak hukum, Dewan Adat Kabupaten Sigi melakukan kunjungan silaturahmi ke Mapolres Sigi. Pertemuan yang berlangsung hangat ini dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Adat Kabupaten Sigi, Drs. H. Aries Singi, M.Si., dan diterima dengan penuh apresiasi oleh Kapolres Sigi, AKBP Kari Amsah Ritonga, S.H., S.I.K., M.H. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas sejumlah hal strategis, termasuk harmonisasi antara aturan adat yang hidup di tengah masyarakat Sigi dengan hukum negara yang berlaku. Diskusi berlangsung dalam suasana saling menghormati, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mengatasi persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan secara bijaksana. Ketua Dewan Adat, Drs. H. Aries Singi, menyampaikan bahwa masyarakat Sigi sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat istiadat, namun tetap menghormati supremasi hukum negara. Oleh karena itu, kerja sama antara Dewan Adat dan Polres menjadi krusial dalam me...

Peradilan Adat di Jamin Oleh Negara

Gambar
 Givu Ngata atau denda adat untuk desa merupakan bagian dari hukum adat yang masih berlaku di banyak komunitas adat di Indonesia, termasuk di wilayah Sulawesi Tengah, seperti masyarakat Kaili, Lore, atau komunitas lainnya. Givu ngata umumnya diterapkan sebagai bentuk sanksi adat terhadap pelanggaran norma sosial, pelanggaran batas wilayah, perusakan lingkungan, atau tindakan yang mengganggu ketentraman dan keharmonisan desa. ✅ Dasar Hukum Givu Ngata (Denda Adat Desa) Walaupun givu ngata tidak secara spesifik diatur dalam satu undang-undang nasional yang khusus, hukum adat diakui dan dilindungi oleh hukum positif Indonesia, dengan dasar hukum berikut: 1. UUD 1945 Pasal 18B ayat (2):  "Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia." 2. UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa Pasal 96 ayat (1):   "Masyarakat Desa be...

Konflik Sosial Pesaku-Rarampadende Berakhir Damai Lewat Libu Ada, Denda Adat Diserahkan di Hadapan Dewan Adat Sigi

Gambar
Kaleke, 12 Juni 2025 — Upaya penyelesaian konflik sosial antara masyarakat Desa Pesaku dan Desa Rarampadende akhirnya membuahkan hasil damai. Perdamaian tersebut diformalkan dalam sebuah Libu Ada (Rapat Adat) yang digelar pada hari ini di wilayah netral Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi. Libu Ada dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Adat Kabupaten Sigi, Drs. H. Aries Singi, M.Si., dan dihadiri oleh berbagai pihak terkait, termasuk perwakilan dari Kesbangpol Kabupaten Sigi, Polres Sigi, Polsek Dolo, Koramil Dolo, serta unsur pemerintah seperti Camat Dolo Barat dan tokoh masyarakat setempat. Puncak dari proses perdamaian adat ini ditandai dengan penyerahan Denda Adat oleh pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa konflik kepada pihak yang dirugikan, sesuai kesepakatan bersama yang telah dibicarakan dalam sidang adat sebelumnya. Penyerahan dilakukan secara terbuka, disaksikan oleh seluruh elemen yang hadir, dan disertai dengan simbol-simbol adat yang menegaskan niat baik dan komitmen d...

KECAMATAN DOLO BARAT

Gambar
  A. Geografi Wilayah Geografis Kec. Dolo Barat Merupakan Wilayah Persawahan dan Dataran Tinggi Perbukitan yang Terhampar di Kiri Kanan Jalan Poros Palu-Bangga, Terdiri dari 12 Desa,yaitu : -Desa Bobo : 18,18 Km" -Desa Mantikole : 12,54 Km" -Desa Pesaku : 4,43 Km" -Desa Balamoa : 17,10 Km" -Desa Rarampadende : 4,12 Km" -Desa Balumpewa : 10,76 Km" -Desa Kaleke : 10,53 Km" -Desa Pewunu : 3,26 Km" -Desa Kalukutinggu : 21,13 Km" -Desa Sibonu : 10,13 Km" -Desa Luku : 1,36 km" -Desa Balaroa Pewunu : 6,8 Km" B. Demografi  Jumlah Penduduk masing-masing Desa di Kec. Dolo Barat : -Desa Bobo : 1.177 Jiwa yang Tersebar di 6 RT terdiri dari 593 Lk dan 584 Pr -Desa Mantikole : 1.375 Jiwa yang tersebar di 11 RT terdiri dari 661 Lk dan 714 Pr -Desa Pesaku : 1.803 Jiwa yang tersebar di 11 RT terdiri dari 917 Lk dan 886 Pr -Desa Balamoa : 922 Jiwa yang tersebar di 8 RT terdiri dari 471 Lk dan 451 Pr -Desa Rarampadende : 2.098 Jiwa yang terseba...

Arti lambang Koperasi Desa Merah Putih Luku

Gambar
Arti logo Koperasi Desa Merah Putih Desa Luku dengan deskripsi ; 1. Bentuk Umum: Lingkaran: Melambangkan kebersamaan dan kesatuan warga desa dalam semangat koperasi. 2. Warna Utama: Merah dan Putih: Melambangkan semangat nasionalisme, keberanian (merah), dan kesucian/kejujuran (putih), sesuai nama “Merah Putih”. Hijau: Simbol pertanian dan kesejahteraan desa. Cokelat: Melambangkan tanah dan kekuatan desa sebagai daerah agraris. 3. Simbol-Simbol: Padi dan Kapas: Melambangkan kemakmuran dan keadilan sosial. Gigi Roda: Menunjukkan kegiatan ekonomi dan kerja sama antar anggota. Gunung dan Sungai: Melambangkan kondisi geografis Desa Luku yang subur dan alami. Bintang Kuning di Tengah: Simbol cita-cita luhur dan harapan akan masa depan cerah. Tulisan “Koperasi Desa Merah Putih” melingkar atas, dan “Desa Luku” melingkar bawah. 4. Slogan (di pita bawah): “Gotong Royong Menuju Sejahtera”

BPD Luku Inisiasi Pembentukan Karang Taruna “Simbar Jaya” di Kediaman Kepala Desa

Gambar
Desa Luku, 12 Mei 2025 — Dalam upaya mendorong partisipasi pemuda dalam pembangunan desa, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Luku, Sadri , secara resmi menginisiasi pembentukan Karang Taruna "Simbar Jaya" Desa Luku . Pertemuan terbatas tersebut berlangsung di kediaman Kepala Desa Luku, Sakir , dan dihadiri oleh sejumlah perangkat desa yang turut mendukung langkah ini. Turut hadir dalam pertemuan, Kaur Umum Friska, S.Pd., Kepala Dusun I Fahril , serta Ketua RT II Reski Febrian , yang masing-masing memberikan pandangan positif dan harapan besar terhadap peran pemuda dalam kemajuan desa. Dalam sambutannya, Sadri menyampaikan bahwa Karang Taruna merupakan wadah strategis untuk mengembangkan potensi generasi muda, khususnya dalam bidang sosial, kepemudaan, dan kewirausahaan. “Karang Taruna bukan hanya organisasi, tapi ruang belajar, berkarya, dan mengabdi. Kita ingin pemuda Desa Luku punya arah dan semangat membangun bersama,” ujarnya. Kepala Desa Sakir mengapresiasi ...

Lontara Datupamusu, Jejak yang Tak Terhapus

Gambar
Di antara helaian naskah tua yang dijaga dengan kehormatan, tertidur kisah agung, silsilah Raja Datupamusu, nama-nama yang tak sekadar disebut, melainkan ditulis dengan tinta sejarah dan darah perjuangan. Lontara itu bukan hanya dokumen, ia adalah saksi bisu yang tak bisa dibohongi, penjaga kebenaran yang tak dapat diputarbalikkan. Sebab sejarah bukan milik yang paling kuat suaranya, tetapi milik mereka yang jejaknya tertulis dalam keabadian. Di dalamnya, tertulis garis-garis keturunan, mengalir seperti sungai dari leluhur yang gagah, mengakar dalam bumi, menjulang dalam langit ingatan. Itulah trah Datupamusu, yang lahir dari adat, dibesarkan oleh nilai, dan diabadikan oleh pena suci lontara. Tak akan ada yang bisa menghapusnya, tak satu tangan pun dapat mengubah susunannya. Karena sejarah sejati tak tergantung pada kata, melainkan pada bukti dan lontara adalah bukti itu. Maka biarlah dunia berubah, namun naskah itu tetap berdiri sebagai penjaga nama, pengingat bahwa darah Datupamusu b...

Tagunu Datupamusu dan Perjalanan Pulang yang Menantang

Gambar
Tagunu Datupamusu adalah putra dari Datupamusu, seorang tokoh penting dalam pergerakan Sarekat Islam (SI) di wilayah Sigi, Sulawesi Tengah, pada awal abad ke-20. Pada Desember 1917, Datupamusu ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tuduhan mendirikan organisasi gelap dan menghasut rakyat untuk memberontak. Akibatnya, ia diasingkan ke Ternate selama sekitar 9,5 tahun. Dalam masa pembuangan ini, Datupamusu membawa serta anaknya, Tagunu, yang saat itu berusia sekitar 12 tahun. Setelah Datupamusu diasingkan, kepemimpinan SI di wilayah tersebut dilanjutkan oleh tokoh-tokoh lain, meskipun mereka juga menghadapi penangkapan dan pengasingan oleh pemerintah kolonial. Setelah kembali dari pengasingan pada tahun 1926, Datupamusu kembali aktif dalam pergerakan SI yang kemudian berganti nama menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). A. Perjalanan Pulang   Angin laut berhembus kencang di Pelabuhan Ternate (tepatnya di Tobelo) saat Tagunu menatap gelombang yang bergulung di k...